RINTIK YANG TERTINGGAL
Bab 1 – Pertemuan yang Tidak Selesai Langit kota hari itu terlihat terang tapi tidak hangat. Matahari memantul dari jendela-jendela gedung tinggi, menciptakan bayangan panjang di trotoar yang mulai padat oleh orang-orang berseragam kerja. Di tengah hingar-bingar perkotaan, ada satu jendela yang tidak pernah terbuka penuh. Jendela itu milik seorang pria yang lebih memilih membiarkan udara masuk lewat celah kecil, cukup untuk menyapa tapi tidak untuk tinggal. Namanya Reza . Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, dia duduk sendiri di ruang tengah apartemennya. Cangkir kopi hitam dibiarkan di atas meja, menguap pelan. Televisi menyala tanpa suara, hanya menjadi latar gerak yang tak penting. Di tangannya, sebuah buku yang sudah lama tidak ia sentuh kembali terbuka di halaman ke-43—halaman yang dulu ditandai oleh tangan seseorang yang pernah tinggal di ruangan yang sama. Hujan semalam belum sepenuhnya mengering. Beberapa titik air masih mengga...