Kenapa Perempuan Sering Minta Maaf, Bahkan Saat Tak Salah?

 “Maaf, cuma nanya.”

“Maaf ya, ganggu waktunya.”

“Maaf banget, ini salahku ya?”



Aku sering mendengar—dan mengucapkan—kalimat seperti itu. Bahkan untuk hal-hal kecil yang seharusnya tidak perlu disesali. Bahkan ketika aku tahu, aku tidak salah.


Seolah-olah, menjadi perempuan berarti harus selalu sopan, selalu menjaga nada, selalu minta izin untuk bernapas lebih keras.


Kita tumbuh dalam budaya yang membuat perempuan merasa bersalah hanya karena bersuara. Kita didorong untuk tidak terlalu keras, tidak terlalu terlihat, tidak terlalu… menjadi diri sendiri.


Maka muncullah “maaf” di setiap ujung kalimat kita. Sebuah tameng untuk bertahan. Sebuah cara halus agar keberadaan kita bisa diterima.


Tapi sampai kapan kita terus menyusutkan diri agar muat di ekspektasi orang lain?


Aku belajar, pelan-pelan, bahwa tidak semua hal butuh permintaan maaf.

Bertanya bukan salah. Punya opini bukan salah. Merasa lelah, marah, bahkan kecewa pun bukan salah.


Perempuan tidak harus terus minta maaf hanya karena ingin didengar.


Dan jika kamu sedang belajar berhenti menyalahkan diri sendiri, tahu bahwa itu butuh waktu. Tapi kamu tidak salah.


Dunia sudah cukup keras—jangan biarkan kita ikut keras pada diri kita sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Unspoken (Yang Tak Pernah Dibicarakan)--Part 1

Menjadi Perempuan di Tengah Ekspektasi Dunia

Kenapa Aku Tak Pernah Merasa Cukup, Padahal Sudah Berjuang?